Disini Kami Tersisih
Fhisilmi Kaffah Anwar
Mentari bergelut dengan embun yang
menyelimuti sela-sela dedunan yang menghijau. Arakan awan gelap masih berarak
mengitari setiap celah sudut kampung ini. Air sisa hujan semalam menetes dan
berbaur bersama embun untuk menyapa pagi. Bau tanah merah masih tercium di
sela-sela hidungku. Mata sembab dan kesenduan tersisa dari hari kemarin.
Terlihat dari seberang jalan sana, Mak Jurai sudah bergegas dengan perkakasnya
menyadap karet di kebun yang masih tersisa, karena himpitan penanaman sawit.
Lek Parmi juga sudah membuka pintu pagarnya, mengarahkan sapi-sapinya yang
berjumlah puluhan ekor itu menuju padang tempatnya mengembala. Sedang aku
bersama kedua kakakku terdiam kelu disini, hanya memandang mereka dengan
pandangan kosong dan sejuta kerinduan dan sesekali terdengar isak tangisku.
Inilah kami tiga bersaudara yang
piatu sejak kemarin. Umur masih sebatang jagung, mak telah pergi jauh. Ia
tenggelam dalam tanah merah yang memakan tubuhnya dalam sejuta kepedihan yang
telah ia lalui. Belum selesai masalah yang kami hadapi, mak telah di panggil
yang maha kuasa. Aku sibungsu yang hanya sebentar menghabiskan waktu dengan mak
sangat pilu merasakan cobaan ini. Belum habis cerita tentang kabar bapak telah
menikah lagi, belum hilang luka ketika keluarga hancur dan terpecah belah tanpa
ada seorang sanak keluarga bapak pun yang menaruh pandang pada kami, anak
tersisih di tinggal mati oleh mak dan di tinggal hidup oleh bapak tanpa
pandang. Ini lebih menyakitkan walau harus menerima kematian mak.
Abang sebagai anak tertua tak dapat
berbicara banyak. Apalah artinya kami di mata orang kampung dan para
ninik-mamak yang hanya ada uang dimatanya. Kami hanyalah anak kecil yang tidak
punya apa-apa di tinggal ibu tercinta tercampak dalam duka yang sangat dalam.
Walaupun berbicara tak kan di hiraukan karena yang hanya di pandang adalah
mereka yang berada, duit banyak, rumah megah, ternak berpuluh jumlahnya dan tak
pelit memberi mereka uang. Dulu, pernah ketika mak dan bapak menyelesaikan
perkara rumah tangganya dengan meminta bantuan pada tetua suku, namun yang
terjadi hanyalah mak yang di pojokkan dan seolah-olah semua yang dilakukan mak
adalah salah. Ini benar dan tak hanya sebatas pandang dan sepintas lalu. Mak
adalah orang pendatang bukan asli desa ini. Ia hanya merantau mengadu nasib
lalu menikah dengan bapak dan memutuskan untuk tinggal disini. Bagi orang
kampung sini, orang pendatang tak dianggap dan tak masuk dalam perhitungan.
Karena menurut tetua adat dan tokoh ninik-mamak hanya orang aslilah yang dapat
menentukan keputusan dan memiliki hak lebih. Apalah daya kami pendatang,
keluarga bapak pun berpangku tangan enggan membantu.
Pagi beranjak pergi, bingung datang
menghampiri. Kepada siapa kami akan mengadu? dalam adat-istiadat kampung di
hari ketika setelah kematian seseorang harus di adakan kenduri dengan dalih
ingin mendoakan orang yang telah meninggal itu. Namun hal itu ibarat pukulan
keras bagi kami tiga beradik . Uang tak punya, apalagi barang-barang berharga.
Kami hanya duduk dalam sebuah rumah di atas tanah peninggalan mak dan bapak.
Apa yang harus kami lakukan untuk memnuhi adat istidat ini. Meminjam uang pada
induk semang mak, pasti tidak akan mau ia meminjamkan. Ingin menjual
barang-barang berharga yang ada, itu semua telah habis untuk mencukupi
kebutuhan yang sangat sulit selama ini.
“Dik, apa yang harus kita lakukan.
Senja semakin mendekat dan esok kitta harus melakukan kenduri untuk mak. Tapi
kita tak punya uang untuk itu. Abang takut, kalau kita tidak melakukannya kita
akan di hina masyarakat dan di cemeeh para tetangga dan kita akan semakin di
kucilkan dari pergaulan.”
“ Entahlah bang, adik tak tahu apa
yang harus kita lakukan. Belum habis sedih atas kepergian mak, kita harus
mendapatkan cobaan ini pula. Sudahlah jatuh, tertimpa tangga pula kita bang “
kakak menimpali perkataan abang. Sedangkan dari mulutku lagi-lagi yang keluar
hanya isak tangis kesedihan dan kerinduan pada mak yang terdengar.
Makan tak selera, kami bagaikan
bergantung tapi tak bertali. Malam harinya datanglah seorang mamak dari suku
kami membawa suatu kabar. Entah itu kabar baik atau kabar gembira. Ia duduk
pada kursi tua yang semakin rapuh di makan rayap.
“ Nak, bagaimana kabar kalian ?”
“ Alhamdulillah baik mak, ada
gerangan apakah mamak kemari?” abang berkata.
“Maaf nak, mamak datang membuat
kabar tak baik untuk kalian. Tadi selepas shalat maghrib kami para pemuka adat
berunding, dan dalam rundingan itu membahas tanah tempat kalian tinggal ini.
Terdengar kabar kalau ini adalah tanah ulayat dan dulu tanah ini hanya
dipinjamkan oleh datuk suri kepada mak dan bapakmu setelah mereka menikah. Jadi
ninik mamak sepakat tanah ini akan di gunakan untuk membangun rumah adat kita
yang telah lama di rencanakan untuk di bangun. Jadi kami berharap kalian
meninggalkan rumah dan tanah ini secepatnya. Maaf nak mamak hanya menyampaikan
pesan. Mamak sebenarnya tak sanggup menyampaikan ini. Karena kalian adalah anak
baik .”
Darah berdesir cepat dalam tubuh
kami. Ya allah apakah lagi cobaan yang engkau berikan pada kami tubuh-tubuh
lemah ini yang mungkin esok hanya tinggal tulang menghadapi berbagai cobaan
ini.
“ Mamak, mak kami baru saja
meninggal. Belum kering air mata kami karenanya, kini pun mamak datang dengan
kabar yang begitu pedih menyayat lubuk hati terdalam. Tiada seorangpun yang mau
memandang kami lagi mak. Hanya inilah peninggalan mak yang ia tinggalkan pada
kami tempat kami berlindung dan melanjutkan kehidupan. Namun di senja ini mamak
mengatakan kami harus angkat kaki dari sini. Mak ini tanah orang tua kami, mak
dengan bapak membelinya pada datuk suri dulu setelah mereka menikah. Mak pernah
bercerita pada kami. Tidaklah kami menyampaikan kebohongan pada mamak, tetua
disini.”
“Mamak percaya apa yang kalian
katakan nak. Tidakkan kebohongan yang akan keluar dari mulut kalian. Nak
pikirkan apa yang mamak katakan tadi. Mungkin besok para ninik-mamak yang lain
akan datang kesini tapi mamak tidak tahu kapan pastinya. Nak bersabarlah nak
dan banyak berdoa. Karena allah memberikan ujian pada hambanya sesuai dengan
kemampuan yang dimilikinya. Mamak pulang dulu ya. Assalamualaikum “
“Waalaikumsalam mak “
Dan tangis pun pecah diantara kami. Menangisi bagaimana
nasib kami kedepannya. Hidup tanpa mak dan esok apakah kami akan tidur beralas
bumi dan hanya beratapkan lagit sahaja.
Mak kami rindu dikau mak. Kami tak sanggup menghadapi
cobaan ini. Kami bertiga tidur dalam tangis yang tak tahu kapan berhentinya. Tidur
merengkuh luka yang semakin tercabik besar. Pedih sungguh sangat-sangat pedih.
Mata sembab badanpun semakin kurus karena dua hari ini tak sebiji pun nasi
masuk melalui mulut mereka apalagi menyapa usus yang semakin kelaparan menunggu
makanan. Hanya air putih yang mereka tegak menjanggal lapar yang kian mendera.
Sungguh kepedihan yang tidak pernah kami bayangkan sebelumnya.
Apa dosa kami tuhan hingga engkau menghukum kami dalam
kepedihan begini. Bapak pun tak datang memberikan uluran tangannya pada kami
untuk bangkit dan bersemangat melanjtkan kehidupan ini. Kabarnya tak terdengar
bagaikan hilang di telan bumi. Ia telah larut dengan kebahagiaan bersama isteri
barunya dan keluarganya yang baru. Sedang kami tercampak bagai dedaunan kering
tak bermakna yang diinjak oleh manusia tak tahu iba. Akankah kami hidup dalam
rimba berkawankan pada binatang yang tak pernah pilih kasih, dan menyakiti hati
sesamanya. Jika ia ingin memangsa ia lansung memangsanya dan tak menyakitinya
secara perlahan. Hidup di rimba terasa lebih baik baik dari pada hidup di desa
ini , karena bagaikan hidup di tengah bara api yang sangat panas dan
menyakitkan raga. Namun apabila kami hidup dirimba berpijak pada tanah dan
bernaung didalamnya, apalah kan dikata oleh ninik-mamak itu. Itu tanah ulayat
dan kalian tak boleh tinggal disitu. Sebegitu kejamnya mereka hingga tak belas
kasih pada kami piatu tak berdaya dan tak punya apa-apa.
Kokok ayam telah berlalu sejak tadi, matahari
menelusup lewat sela-sela jendela yang kian banyak lubangnya di gerogoti rayap.
Jam didinding yang tua itu ternyata sudah menunjukkan pukul delapan. Namun bukan
itu yang yang membuat kami terbangun. Hiruk-pikuk suara diluar sana dan tetesan
hujan yang menimpa atap menelusup masuk ke genderang telinga kami. Tanpa
disangka diluar sana telah berdiri para ninik-mamak dan masyarakat lainnya.
Sudahlah pasti apa yang hendak mereka lakukan. Mengusir kami dari peraduan ini
karena ini kata merekaadalah tanah ulayat. Mereka tak pandang usia. Melakukan
tindakan kejam pada manusia kecil seperti kami yang tahu apa-apa. Yang takkan
bersuara bila berbicara. Yang tak kan tampak bila berdiri tegak.
“Hai anak-anak kecil kemaslah barang kalian
beranjaklah dari tanah ini. Karena sebentar lagi rumah ini akan di robohkan”
“Cepatlah bergegas dan pergi dari sini ataukah kalian
akan lenyap bersama reruntuhan rumah ini”
“Dengar tidaaaaak !!!”
Kami pun beranjak melangkah meninggalkan pintu
peraduan tempat kami bernaung semenjak lahir. Tempat kami menghabiskan waktu
kecil bersama mak dan bapak tercinta. Tempat kami berjuang untuk melanjutkan
hidup. Tempat kami merasakan suka dan duka dan tempatt kami melepaskan
kepergian bapak ke tangan orang dan ibu kepangkuan yang illahi. Rumah ini akan
lenyap bersama kenangan di dalamnya, tapi tanah ini tak kan lenyap ia akan
bersaksi bahwa kami tak salah dan ini adalah hak kami. Andaikan ia bisa
bersuara ia akan berteriak pada mereka masusia kejal dan tamak akan uang.
Langkah kami semakin berat ketika melalui mereka. Kami
di pandang jijik seperti melihat bangkai yang baunya menyengat. Rapuh dan
sangat rapuh diri kami saat ini. Sekolah yang tahu lagi apa kelanjutannya,
impian yang hanya akan mengambang tak tergapai dan kerinduan pada bapak yang
semakin memakan tubuh kami. Hujan semakin deras mengiringi langkah kami yang
tak tahu hendak di langkahkan kemana. Energi di dalamnya telah habis dan tak
ada lagi yang bisa di keluarkan. Langkah kami terhenti di bawah batang sawit ini.
Tubuh kami lunglai, dan dari kejauhan sisni terdengar reruntuhan rumah kami
roboh di iringi tangis langit. Kami di hukum oleh adat dan ninik-mamak yang
katanya paham akan adat istiadat dan selalu memperhitungkan tanah ulayat. Kami
di bunuh secara perlahan oleh keadaan yang sangat kejam, hingga akhirnya tubuh
kami jatuh lunglai dan mata terepejam tubuh tak berdaya. Yang tinggal hanyalah
tiga onggok jasad kami anak yang tak bersalah dan di hukum dalam keadaan yang
tak kami pahami sebelumnya. Kami lah korban kenistaan dan ketamakan akan uang
dan tanah ulayat yang masih ada sekarang. Kamilah korban anak yang di campakkan
oleh bapak karena mendapat keluarga baru. Kamilah anak miskin yang tak dapat
berkutik dan mati dalam kelaparan dan kepedihan.
Hingga hujan meneyelimti jasad kami yang tak lagi akan
bergerak dan akan menyatu dengan tanah, mengikuti jejak mak yang telah dahulu
pulang. Kami tersisih.
Telukkuantan, november 2016
Nama :
Fhisilmi kaffah
Alamat : kota
pekanbaru, riau
Pendidikan :
universitas riau
No. Hp : 0852
6571 4777
Gmail : fhisilmi.anwar@gmail.com
Komentar
Posting Komentar