Langsung ke konten utama


CERPE
sahabat, cerpen ini adalah cerpen pertama saya. mungkin terdapat banyak kesalahan, karena saya baru pemula. selamat membaca
 

Setetes Embun dalam Duka
Fhisilmi Kaffah Anwar
Semilir angin pagi berhembus perlahan. Menyibak wajahku dalam alunan kesendirian. Mentari tak kunjung datang, awan kelam setia menemani. Ku terpaku menatap keluar sana, menopang daku, menarik nafas perlahan, menikmati setiap kenikmatan yang kuasa. Embun lagi, menyapa tanganku yang kaku tanpa kasih. Senyum ku hambar, karena luka nan tertahankan. Sapaan orang kepadaku, ku sambut hangat walau hati di rundung perih. Mengapa tidak ? aku hidup dalam lingkungan ratusan orang. Seatap bersama mereka. Hidup berasrama memang indah, ada sejuta kenangan di dalamnya.
Desember menerpaku di pagi selasa ini. Mengingatkanku di kenangan desember silam. Tanganku tak beranjak dari embun ini. Seakan ia ingin membuka kembali cerita nan telah kututup jauh di dalam relung hatiku. Seragamku terpasang indah di sukma, tak lupa melekat hijap syar’i nan sangat ku suka. Aku memang suka, melamunkan akan apa yang pernah terjadi padaku, sebelum kaki ini menapak menusuri jalan ke kelas nan tak jauh. Pagi ini, pasti ku melihat wajahmu. Wajah yang sangat aku hindari akhir-akhir ini. Alasan yang kamu tahu sebabnya.
Degupan jantungku tak lagi mengikuti irama yang seperti habis berlari. Kenyataan yang mempersatukan kita belajar dalam ruang yang sama. Tidak banyak kenangan yang ada dalam kisah kita. Namun, kepahitan dan kesedihan yang sisakan di akhir cerita sampai saat ini.
Tak kusadari embun telah pergi, mentari telah datang dengan senyumnya yang mengembang. Kuputuskan tuk menapaki jalan certiaku hari ini, walau ada kepedihan akan dirimu. Kemarin,
30 november
Pesan di beranda facebook ku cukup membuatku kaget. Yang kurapkan pesan dari guru biologi, namun ternyata itu darimu. Untaian kata nan menjelama, menghanyutkan ku dalam tangisku yang tidak bersuara. Pesan terpanjang yang pernah ada darimu untukku, terakhir mungkin. Ku pahami sedikit demi sedikit, perlahan ia menusuk. Kamu telah hilang dari kisah cintaku, entah sudah beberpa bulan silam. Namu kau hadir menumpahkan aku segalanya. Terenyah aku dalam kepedihan. Senin di tengah hari, kau hancurkan semnagatku.
Tidakkah kamu tahu, dirimu telang hilang dari rasa yang pernah hadir dalam diriku. Sejak saat itu, hingga sekarang tatapanmu bersetan kepadaku. Tidak ada lagi ucapan yang keluar di sela bibirmu. Tak tegur sapa !! kata-katamu yang tidak ku lupa.
Aku hanyut dalam keheranan. Dirimu tidak pernah ku permasalahkan selama ini. Ingin ku mengadu pada embun, namun embun seakan tak mendengar. Ia tak hadir di pagi rabu. Kamu berujar berkata lain, jarang sepotong kata kau ucapkan padaku. Kita satu kelas namun seperti tidak melihat. Sakit karena disalahkan yang aku rasakan.
Entah darimana kabar yang dirimu dengar. Sejak engkau putuskan hubungan kita tidak ku harap engkau kembali padaku. Tidak kubenci wanita yang engkau suka. Namun ku kecewa akan tuduhamu. MUAK. Kata nan terucap untukmu.
Selasa, rabu, kamis ku lalui tanpa tegur sapa. Penjelasan dari temanmu hanya menghantarkan aku kedalam jurang kesakitan yang lebih dalam. Tidak cukupkan pesan darimu ?? penjelasan terakhir yang kudengar, sungguh betapa jahatnya dirimu. Hanya karena cintamu yang ditolak, kamu lampiaskan padaku.
Embun, lagi ku cari pagi ini. Ku melihatnya embun, menyakitkan. Ia menyakitiku karena tak mendapatkan wanita pujaannya. Embun jemput aku dari kejahatan ini. Rasa padanya yang ku hapus, kembali ia hadirkan derita, hingga benci hendak menerpa. Embun.
Dirimu yang mengajarkan berbagai hal, datang sekali lansung menyakiti. Hingga di pagi berikutnya masih kecewa yang datang menyapa. Tak tegur sapa, masih ada antara kita. Hadirmu dalam ilusi-ilusi semakin tak bisa ku melupakanmu.
Teruntukmu dalam ceritaku,  hadirmu dalam hariku menyakiti setiap relung sanubariku. Panggilkan embunku, jemputkan ia, biar ku hapus bersamanya luka yang kau torehkan.
Teluk kuantan, desember 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

assalamu'alaikum wr.wb salam perkenalan dari saya. Saya FHISILMI KAFFAH ANWAR, panggilannya cici. saya pelajar dan bersekolah di sman pintar kuantan singingi. say hobi menulis mencurahkan apa yang saya rasa. Saya selalu menuangkannya dalam buku catatan harian. saya juga seorang penulis puisi dan pemikir sejati. hehe.. saya dulunya ragu mau buat blog, tapi atas saran dan motivasi hidup saya, akhirnya terciptalah blog ini.. saya ingin menjadi penulis sebenarnya yang menulis apa yang ia rasa. untuk awal ini saya persembahkan sebuah puisi tentang krisis budaya di tengah peradaban dunia Sebelit Luka Tanah Tumpah Fhisilmi kaffah anwar Sebukit pilu di ujung nafas Semburat pedih di tengah ratapan Sempena hiruk pikuk memekak telinga Entah berapa kali nada-nada gila itu menyerang Membuyar dalam lamunan pilu Menyentak dalam kepedhan luka Sang mamak sontak tertunduk pilu Sang emak melolong jeritan perih Abad memakan waku Meransang tampak kerikil hidup Dura datan...