Langsung ke konten utama

Mimpi dan Kenyataan

Mimpi dan Kenyataan


Aku bermimpi terlalu besar dan terlalu tinggi. Aku ingin menjadi Ibnu Batutah untuk ayah yang siap menaklukkan dunia seperti vasco da gama dan marco polo. Aku ingin menjejakkan kaki di setiap bumi ciptaan allah. Aku ingin menjadi mata ayah melihat keagungan tuhan dalam setiap jejak ciptaannya. Dan itulah mimpiku, mimpi yang terama besar yang pastinya aku tidak akan bisa meraih dan mencapainya. Aku tidak bisa menjadi seorang Rania dalam cerita fiksi asma nadia yang bisa menjadi mata untuk ayahnya menjejakkan kaki di 25 negara di dunia ini. Aku sangat ingin menjadi seperti rania, penderita geger otak yang tidak bisa kuliah tapi tulisannya mendunia dan mengalahkan mereka yang bisa mengecap kursi kampus. Aku ingin menjadi jilbab traveler yang tangguh walau ku tahu tubuhku akan mati di makan penyakit yang menjalar. Aku terlalu suka merangkai mimpi-mimpi dan terlalu sering pula ku dapat cemooh tentang mimpiku yang terlalu tinggi ini. Anak miskin yang tak punya apa-apa mana bisa keliling dunia ! aku sering menulis mimpiku di setiap buku diari harianku, aku selalu menjadi penulis yang memimpikan hal yang tak pasti. Aku menulis sesuatu seperti mengharapkan mutiara di kedalaman palung lautan, yang jelas saja aku tak akan mampu mendapatkannya. Aku terlalu bodoh untuk bermimpi dan mengharapkan kenyataan yang indah. Padahal itu sungguh menyakitkan. Inilah aku dengan sejuta mimpiku yang masih berbekas dalam goresan harapanku.
Telukkuantan, 19 Desember 2016

Dalam selembayung langit senja

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

assalamu'alaikum wr.wb salam perkenalan dari saya. Saya FHISILMI KAFFAH ANWAR, panggilannya cici. saya pelajar dan bersekolah di sman pintar kuantan singingi. say hobi menulis mencurahkan apa yang saya rasa. Saya selalu menuangkannya dalam buku catatan harian. saya juga seorang penulis puisi dan pemikir sejati. hehe.. saya dulunya ragu mau buat blog, tapi atas saran dan motivasi hidup saya, akhirnya terciptalah blog ini.. saya ingin menjadi penulis sebenarnya yang menulis apa yang ia rasa. untuk awal ini saya persembahkan sebuah puisi tentang krisis budaya di tengah peradaban dunia Sebelit Luka Tanah Tumpah Fhisilmi kaffah anwar Sebukit pilu di ujung nafas Semburat pedih di tengah ratapan Sempena hiruk pikuk memekak telinga Entah berapa kali nada-nada gila itu menyerang Membuyar dalam lamunan pilu Menyentak dalam kepedhan luka Sang mamak sontak tertunduk pilu Sang emak melolong jeritan perih Abad memakan waku Meransang tampak kerikil hidup Dura datan...
CERPE sahabat, cerpen ini adalah cerpen pertama saya. mungkin terdapat banyak kesalahan, karena saya baru pemula. selamat membaca   Setetes Embun dalam Duka Fhisilmi Kaffah Anwar Semilir angin pagi berhembus perlahan. Menyibak wajahku dalam alunan kesendirian. Mentari tak kunjung datang, awan kelam setia menemani. Ku terpaku menatap keluar sana, menopang daku, menarik nafas perlahan, menikmati setiap kenikmatan yang kuasa. Embun lagi, menyapa tanganku yang kaku tanpa kasih. Senyum ku hambar, karena luka nan tertahankan. Sapaan orang kepadaku, ku sambut hangat walau hati di rundung perih. Mengapa tidak ? aku hidup dalam lingkungan ratusan orang. Seatap bersama mereka. Hidup berasrama memang indah, ada sejuta kenangan di dalamnya. Desember menerpaku di pagi selasa ini. Mengingatkanku di kenangan desember silam. Tanganku tak beranjak dari embun ini. Seakan ia ingin membuka kembali cerita nan telah kututup jauh di dalam relung hatiku. Seragamku terpasang indah di suk...